8 Tradisi Unik Masyarakat Era Ottoman, dari soal Istri Naik Tangga hingga Hidangan Kopi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Kesultanan Ottoman didirikan pada 1299 dan berakhir pada 1924. Dengan demikian, kekuasaan Ottoman berlangsung selama lebih dari enam abad dan mencakup wilayah yang sangat...
oleh RSS Aggregator
Ringkasan dari Republika↗
Kesultanan Ottoman yang berdiri dari tahun 1299 hingga 1924 memiliki sejumlah tradisi unik yang mewarnai kehidupan masyarakatnya selama lebih dari enam abad. Kekuasaan yang membentang luas di Asia, Afrika, dan Eropa ini meninggalkan warisan budaya yang khas. Berbagai kebiasaan sehari-hari masyarakat Ottoman kerap kali menarik perhatian karena keunikannya.
Salah satu tradisi yang menonjol adalah kebiasaan para istri yang harus naik tangga untuk menemui suami. Dalam budaya Ottoman, istri diharuskan meminta izin terlebih dahulu sebelum memasuki kamar suami. Proses ini melambangkan rasa hormat dan hierarki dalam rumah tangga.
Selain itu, tradisi menyajikan kopi juga memiliki aturan tersendiri di era Ottoman. Hidangan kopi tidak sekadar minuman, melainkan simbol keramahan dan status sosial. Kopi disajikan dengan tata cara khusus, termasuk penggunaan cangkir kecil yang disebut fincan. Kebiasaan minum kopi ini bahkan memunculkan profesi khusus pembuat kopi di istana.
Masyarakat Ottoman juga memiliki tradisi unik dalam urusan pernikahan. Calon pengantin pria diwajibkan memberikan hadiah berupa perhiasan atau uang kepada keluarga mempelai wanita. Proses ini dikenal dengan istilah mahr dan menjadi syarat sah pernikahan menurut hukum Islam yang berlaku saat itu.
Tradisi lain yang tidak kalah menarik adalah kebiasaan mandi di pemandian umum atau hamam. Hamam bukan sekadar tempat membersihkan diri, melainkan pusat interaksi sosial masyarakat. Di tempat ini, warga berkumpul, berbincang, dan menjalin hubungan sosial. Kebiasaan ini berlangsung turun-temurun dan masih bisa ditemukan di beberapa wilayah bekas kekuasaan Ottoman.
Dalam urusan pemerintahan, Sultan Ottoman memiliki tradisi khusus saat menerima tamu asing. Para duta besar harus melalui serangkaian upacara resmi sebelum bisa bertemu langsung dengan Sultan. Proses ini dirancang untuk menunjukkan kekuasaan dan keagungan Kesultanan Ottoman di mata dunia internasional.
Keunikan lain terlihat dari tradisi berpakaian masyarakat Ottoman. Warna dan model pakaian sering kali mencerminkan status sosial dan profesi seseorang. Misalnya, pejabat tinggi mengenakan sorban berwarna putih, sementara rakyat biasa menggunakan sorban dengan warna berbeda. Aturan berpakaian ini diterapkan secara ketat di ruang publik.
Warisan tradisi Ottoman ini masih dapat disaksikan hingga saat ini, terutama di negara-negara yang pernah menjadi bagian dari kekaisaran. Meskipun Kesultanan Ottoman telah berakhir pada 1924, jejak budayanya tetap hidup dan menjadi bagian penting dari sejarah peradaban dunia.