1. Apa itu jurnalisme damai
Jurnalisme damai adalah pendekatan peliputan yang secara sadar memilih framing yang tidak memperbesar konflik. Dipopulerkan oleh Johan Galtung dan dikembangkan Jake Lynch, pendekatannya berangkat dari satu pengamatan: media punya pilihan framing, dan pilihan itu punya konsekuensi nyata terhadap bagaimana masyarakat memahami (dan merespons) konflik.
Bukan berarti media harus “positif terus” atau menyensor masalah. Ini soal bagaimana masalah diliput.
Empat pergeseran framing yang dipakai di redaksi ini
| Konflik | Damai |
|---|---|
| Fokus ke 2 pihak berseteru | Fokus ke banyak pihak & kepentingan yang terlibat |
| Liputan reaktif | Liputan proaktif akar masalah & inisiatif penyelesaian |
| Bahasa dramatis (“serangan”, “perang”) | Bahasa presisi, tidak menghasut |
| Sumber didominasi elite | Melibatkan suara warga biasa yang terdampak |
Penerapan konkret di portal ini: kotak “Sudut Pandang Berimbang” wajib memuat ≥2 sudut pandang untuk artikel kontroversial, kategori “Toleransi & Kebhinekaan” punya liputan rutin, dan setiap artikel kategori sensitif wajib punya bagian Konteks.