Ekonom: Ada Potensi Kenaikan Biaya Operasional Seiring Penerapan B50
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan terdapat potensi peningkatan biaya operasional seiring penerapan...
oleh RSS Aggregator
Ringkasan dari Republika↗
JAKARTA , Penerapan mandatori bahan bakar minyak (BBM) jenis B50 berpotensi mendorong kenaikan biaya operasional di berbagai sektor. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti.
Menurut Esther, kebijakan pencampuran 50 persen biodiesel ke dalam solar ini memerlukan penyesuaian teknis yang tidak murah. Mesin kendaraan dan peralatan industri harus dimodifikasi agar kompatibel dengan campuran bahan bakar tersebut.
"Biaya modifikasi mesin dan perawatan berkala diprediksi akan bertambah. Ini menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha, terutama di sektor transportasi dan manufaktur," ujar Esther dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa.
Esther menambahkan, peningkatan biaya operasional juga dipicu oleh harga biodiesel yang lebih tinggi dibandingkan solar murni. Meskipun pemerintah memberikan subsidi, selisih harga tetap membebani pengguna akhir.
Ia mencontohkan, sektor logistik dan angkutan umum akan merasakan dampak paling langsung. Kenaikan biaya bahan bakar berpotensi mendorong tarif angkutan barang dan penumpang naik.
"Efeknya bisa meluas ke harga kebutuhan pokok karena biaya distribusi meningkat. Inflasi perlu diwaspadai jika tidak ada skema kompensasi yang tepat," kata Esther.
Kendati demikian, Esther mengakui kebijakan B50 bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan mendukung energi hijau. Namun, ia mendorong pemerintah melakukan kajian mendalam tentang kesiapan infrastruktur dan industri.
"Transisi energi harus diimbangi dengan insentif bagi dunia usaha. Jangan sampai target lingkungan tercapai tetapi justru menekan daya saing industri nasional," tegasnya.
Pemerintah sebelumnya menargetkan uji coba B50 rampung pada 2025. Implementasi penuh direncanakan bertahap dengan mempertimbangkan kapasitas produksi biodiesel dalam negeri.