Partai Buruh di Indonesia Minim Kesadaran Kelas, Dikooptasi Oligarki
Sejarah Partai Buruh di Indonesia adalah sejarah perpecahan dan kegagalan kelas buruh menembus parlemen. Pakar mendiagnosisis penyakit utama kegagalan ini.
oleh RSS Aggregator
Ringkasan dari CNN Indonesia↗
Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Buruh di Indonesia dinilai masih lemah dalam membangun kesadaran kelas di kalangan anggotanya. Sejumlah pakar menyebut partai ini justru rentan dikooptasi oleh kepentingan oligarki.
Sepanjang sejarah politik Indonesia, Partai Buruh gagal menembus parlemen secara signifikan. Perpecahan internal dan minimnya pemahaman ideologis disebut sebagai faktor utama kegagalan tersebut.
Pakar politik dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Yusuf, menyatakan bahwa partai buruh di Indonesia belum mampu menjadi representasi sejati kelas pekerja. Banyak kader yang lebih fokus pada kepentingan pragmatis dibanding perjuangan kelas.
"Partai buruh seharusnya menjadi alat perjuangan kaum pekerja, bukan menjadi kendaraan elite politik," ujar Andi dalam diskusi publik di Jakarta, Selasa (2/7).
Menurut Andi, kooptasi oligarki terjadi karena partai buruh tidak memiliki basis massa yang solid. Ketergantungan pada donatur politik membuat partai mudah diarahkan sesuai kepentingan pemodal.
Selain itu, fragmentasi internal juga menjadi masalah kronis. Sejak era reformasi, partai buruh kerap terpecah akibat perebutan posisi dan sumber daya.
Pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rina Wijaya, menambahkan bahwa rendahnya kesadaran kelas membuat buruh sulit bersatu. Banyak pekerja justru memilih partai besar yang dianggap lebih realistis secara elektoral.
"Buruh lebih memilih partai yang menjanjikan insentif jangka pendek daripada memperjuangkan kebijakan struktural," jelas Rina.
Kondisi ini diperparah oleh sistem pemilu proporsional terbuka yang membutuhkan biaya besar. Partai buruh kalah bersaing dengan partai-partai bermodal kuat.
Akibatnya, suara buruh di parlemen nyaris tidak terdengar. Kebijakan yang pro-buruh seringkali dikalahkan oleh kepentingan pengusaha dan investor.
Para pakar mendorong partai buruh untuk kembali pada akar perjuangan ideologis. Pendidikan politik dan pengorganisasian massa dinilai sebagai langkah awal yang krusial.
Tanpa transformasi internal yang serius, partai buruh diprediksi akan terus mengalami kegagalan serupa di masa depan.