Sekjen NATO Bujuk Trump dengan 'Trump Trillion', Presiden AS Minta Satu Hal
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menggelar poster-poster berisi grafik tepat di depan Presiden Donald Trump di Ruang Oval, berusaha meredam kemarahan pemimpin Amerika...
oleh RSS Aggregator
Ringkasan dari Republika↗
Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO, menghadirkan sejumlah poster berisi grafik di Ruang Oval saat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Langkah itu diambil untuk meredakan kemarahan Trump yang kembali melontarkan kritik terhadap negara-negara sekutu dalam aliansi pertahanan Atlantik Utara.
Dalam pertemuan tersebut, Rutte berusaha meyakinkan Trump bahwa kebijakan mantan presiden AS itu telah mendorong peningkatan belanja pertahanan negara-negara anggota NATO. Ia menyebut fenomena tersebut dengan istilah "Trump Trillion," merujuk pada tambahan triliunan dolar yang dikeluarkan sekutu untuk anggaran militer sejak Trump menjabat.
Grafik yang dipajang di hadapan Trump menunjukkan data kenaikan kontribusi anggota NATO. Rutte menegaskan bahwa tekanan yang diberikan Trump sebelumnya membuahkan hasil nyata. Ia berharap pendekatan ini dapat mengubah pandangan Trump yang kerap mengecam negara-negara NATO karena dianggap kurang berkontribusi.
Namun, Trump tidak tinggal diam. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan satu permintaan tegas kepada Rutte dan seluruh anggota NATO. Trump meminta agar negara-negara sekutu segera memenuhi target pengeluaran pertahanan sebesar dua persen dari produk domestik bruto masing-masing.
Trump menilai masih banyak anggota NATO yang belum mencapai komitmen tersebut. Ia mengingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan terus menanggung beban pertahanan bagi sekutu yang dianggapnya tidak serius dalam berbagi tanggung jawab.
Pertemuan di Ruang Oval itu berlangsung di tengah ketegangan hubungan antara Washington dan sejumlah negara Eropa. Sikap kritis Trump terhadap NATO telah menjadi perhatian utama para pemimpin aliansi, terutama menjelang pemilu AS mendatang.
Rutte sendiri dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan Trump. Ia sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri Belanda dan sering berkomunikasi langsung dengan presiden AS. Langkah diplomatiknya kali ini dinilai sebagai upaya menjaga soliditas NATO di tengah tekanan politik yang meningkat.